Daerah

Sudah Dua Tahun Diupayakan, Pembangunan Mushalla Al-Aqsa Terancam Hancur Total

Palembayan, BDI – Proses pembangunan mushalla Al-Aqsa di Kampuang Parik Jorong Ngungun Salareh Aia Palembayan Kabupaten Agam yang sudah 2 tahun diupayakan warga terancam gagal total. Hal ini akibat berubahnya jalur air sungai mendekati pemukiman warga pasca galodo 27 November 2025.

Tim BDI yang mendatangi langsung lokasi pembangunan mushalla pada 2 dan 3 Desember, serta 21 hingga 23 Desember 2025 melihat langsung aliran air sungai semakin menggerus tanah, dan sebagian sudah berada di bawah pondasi mushalla. Hal ini menimbulkan kekhawatiran warga sekitar, cepat atau lambat akan meruntuhkan bangunan yang sedang dibangun.

Menurut Datuak Naro, proses pembangunan mushalla ini sudah berlangsung selama 2 tahun. Biaya pembangunan mushalla berasal dari iuran warga sekitar.

“Selama 2 tahun kami berupaya agar kami bisa memiliki mushalla sendiri. Karena jarak pemukiman kami warga 31 rumah ke Mesjid atau mushalla lain cukup jauh. Ditambah lagi lokasi pemukiman kami agar terjarak dari kawasan ramai” ujar Dt. Naro.

“Biasanya kami kalau mau ke Mesjid harus jalan memutar jauh, kalau cuaca hujan, terpaksa kami tidak bisa ke Mesjid. Apalagi di bulan Ramadhan, kondisi ini membuat kami berkeinginan untuk memiliki mushalla sendiri agar kami memiliki tempat ibadah” lanjutnya.

Dt. Naro menambahkan sebelum kenadian galodo 27 November lalu, warga telah sempat membeli material kayu untuk pembangunan mushalla.

Baca Juga  Platform Digital Lalai Hapus Konten Pornografi Anak, Sanksi Berat Menanti

“Jumlah kayu yang telah kami beli lebih kurang 2,5 kubik. Rencananya untuk membangun mushalla. Namun saat kejadian galodo, semua material hanyut dibawa arus. Dan sekarang dapat dilihat jalur aliran air sungai sudah berada di bawah pondasi mushalla” tambahnya.

 

“Tanggal 22 Desember arus air semakin mengkhawatirkan, karena hujan yang setiap hari masih datang, pondasi rumah warga disebelah mushalla ambruk kedalam sungai. Sementara pondasi mushalla hanya ditamengi oleh tanah yang hanya sekitar 1 meter lagi. Jika tanah 1 meter ini terus tergerus air, pondasi mushalla terancam ambruk juga” ujar Dt. Naro haru.

“Jika pondasi mushalla ambruk, harapan warga untuk memiliki mushalla sirna. Sedangkan selama 2 tahun kami berupaya, saat ini baru bisa sampai membuat tiang. Belum ada dinding, lantai dan lainnya. Kami sangat khawatir terkait kondisi ini dan butuh bantuan dari pemerintah setempat” harap Dt. Naro.

 

 

“Kami sangat berharap sekali bantuan dari pemerintah agar jalur air sungai bisa dipindahkan menjauhi pemukiman. Jalur air ini sudah berpindah 60 meter mendekati pemukiman dari kondisi sebelumnya. Perubahannya bisa dilihat perbandingan di Google Map dan kondisi sekarang ini” tutup Dt. Naro. (Angah)