Penggagas Sukses Gelar Hari Puisi 26 Juli Bagi Penyair, Penulis, dan Pegiat Literasi
Bukittinggi, BDI – Bagi penggagas 26 Juli bukan hanya angka demikian juga para Penyair, penulis, dan pegiat literasi serta pemerhati seni Bukittinggi sebagai bentuk merefleksikan diri terhadap dinamika Puisi Indonesia dengan menggelar berbagai kegiatan di Ladang Rupa, Balairung Sari Kelurahan Pulai Anak Aie, Kecamatan Mandi Koto Salayan (MKS) Kota Bukittinggi pada Sabtu (26 Juli 2025)
Asraferi Sabri, sebagai penggagas kegiatan sekaligus tokoh seniman menyatakan kegiatan hari puisi secara singkat, bahwa kegiatan akan diisi dengan berbagai kegiatan atraksi seni budaya dengan mendatangkan berbagai tokoh, pakar sebagai bentuk apresiasi terhadap hari puisi dan sejumlah hasil karyanya.
Asraferi Sabri tidak lupa menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas dukungan semua pihak dalam mendukung kegiatan hari lahir puisi dalam merefleksikan perjalanan puisi.
Kegiatan tersebut diawali dengan refleksi yang dipandu Dr. Sudarmoko, M.A. yang bertajuk Sumbar dalam peta Kepenyairan/Perpuisian Indonesia Terkini dari siang hingga sore hari diikuti tokoh kawakan,akademi, pecinta seni, termasuk kaum intelektual serta mahasiswa.

upaya untuk memahami puisi Indonesia secara kasat mata pada saat ini dengan mengidentifikasi kekuatan, tantangan, dan menuju perkembangannya yang serba dinamika.
Bukan saja dilihat secara visual semata melainkan berbagai aspek-aspek lainnya seperti sosial, budaya, termasuk ekologi.
secara umum refleksi memetakan konsep serta dinamika, tren, dan perkembangan dalam dunia puisi pada jaman kini yang dipandu dengan sangat baik.
Kemudian Bedah Buku oleh Dr. Ivan Adilla, M.Hum dengan menyigi berbagai Kumpulan Puisi ‘Hantu Padang’
karya Esha Tegar Putra [ Peraih Penghargaan ‘Kusala Sastra Khatulistiwa 2025’ ] yang dipandu dengan penuh interaktif oleh tokoh seniman dan budayawan, Indra Utama.
Bedah buku oleh Dr. Ivan Adilla, M.Hum, yang menyigi kumpulan puisi “Hantu Padang” karya Esha Tegar Putra (peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025) menyoroti karya puisi ini dari aspek budaya dan estetika sastra.
Inti dari bedah menganalisis mendalam terhadap puisi-puisi dalam “Hantu Padang” merefleksikan kehidupan dan budaya lokal, mengangkat tema-tema sosial dan eksistensial yang memikat sekaligus provokatif.
Dr. Ivan menekankan kekuatan karya Esha Tegar Putra mampu menghidupkan suasana dan melibatkan pembaca secara emosional dan intelektual sembari membaca sepenggal puisi tersebut sekaligus mengkomperasi dengan karya pengarang lainnya.
“Hantu Padang” bukan sekadar kumpulan puisi biasa, melainkan sebuah karya sastra yang sukses menyentuh peradaban lokal dan bersifat universal secara bersamaan.
Puisi-puisi ini kaya dengan simbolismdarang menggambarkan dimensi sejarah dan budaya Minangkabau secara kontemporer.
Dr. Ivan juga menegaskan bahwa karya ini memperkuat posisi Esha Tegar Putra sebagai salah satu penyair penting di era sastra Indonesia modern yang mampu menghadirkan narasi baru dalam puisi.
Meskipun salah satu audiens, Subhan merespon dan mempertanyakan dengan kritis objektivitas dan profesional dari kaum dewan juri karena dimensi sosial kurang dilibatkan.
Tuangku Rismaidi, salah satu tokoh yang sangat diperhitungkan turut memberikan apresiasi dengan kegiatan hari puisi oleh penggagas karena sangat mewarnai kehidupan adat dan budaya Minangkabau.
sambil menikmati penampilan puisi Tuangku Rismaidi berbisik, bahwa untuk mengembangkan diri dan tetap bertahan pelaku seni budaya mesti memiliki manufer dalam kebebasan, keberanian,dan kemerdekaan dalam. berekspresi serta fokus pada tujuan.
Pada malamnya pukul 20.00 – 23.30 WIB adiisi Dr. Wannofri Syamry, M. Hum
dengan kegiatan Orasi: Puisi, Hari Puisi dan Chairil Anwar
Menurut Wannofri Syamry, Melihat khairil Anwar tidak bisa dilihat dari sisi personal melainkan ada aspek dan dimensi lain yang melekat kuat.
Wannofri Syamry menyebutkan, Aku” berarti memahami perjuangannya dari berbagai aspek dan dimensi, bukan hanya sekadar sebagai pahlawan atau pejuang fisik.
Dalam puisi tersebut, Khairul Anwar menggambarkan semangat kemerdekaan yang menyatu dengan jiwa dan raga, menunjukkan bahwa perjuangan melibatkan pengorbanan, rasa cinta tanah air, serta keyakinan yang mendalam
Dengan kata lain, Khairul Anwar dalam puisi “Aku” menunjukkan bahwa memperjuangkan kemerdekaan adalah sebuah perjuangan menyeluruh—melibatkan perasaan, pikiran, dan tindakan yang semuanya menyatu demi sebuah tujuan mulia. Wannofri Syamry tidak lupa mengaitkan dengan nama besar para pahlawan lainnya sebagai mitra khairil Anwar; Sutah Shahrir, dan Muhamad Natsir serta tokoh pejuang lainnya.
Belasan Penyair kondang Sumbar dan luar sumbar termasuk seniman cilik yang sangat berbakat melakukan pertunjukan spektakuler dan sangat memukau dengan membacakan sejumlah Puisi dan pertunjukan seni budaya dengan karya fenomenal dari sang Maestro membuat penonton terhipnotis dengan penuh decak kagum bagai kena sihir Fir’aun. (YAMAN)




