YANG DISEBUT GILA JAGA KEBERSIHAN, YANG MENGANGGAP DIRI WARAS MALAH MENJADI PENCEMAR
TILATANG KAMANG, BDI – Hari Kamis, 09 Juli 2026, menjadi hari yang membungkam sekaligus mempermalukan kita semua di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang. Di tengah hiruk-pikuk acara besar yang digelar, tampaklah sebuah kontras yang menyakitkan: Jhon Tralala, sosok yang selama ini sering dipandang sebelah mata, dicibir, bahkan dilabeli “orang gila”, justru menjadi satu-satunya yang bersungguh-sungguh menjaga lingkungan. Ia sibuk memungut sampah, membersihkan rumput liar, dan merapikan tempat di sepanjang area nagari hingga batas kecamatan—tanpa disuruh, tanpa pamrih.
Sementara itu, kita—yang mengaku berakal sehat, berpendidikan, bahkan memegang tanggung jawab—berlagak seolah dunia ini tempat pembuangan sampah. Bungkus makanan, gelas plastik, sisa barang bekas, dilemparkan begitu saja ke mana saja tanpa rasa bersalah. Kita bicara soal kemajuan, tapi tangan kita sibuk mengotori rumah sendiri.
Jhon hanya bekerja dengan caranya sendiri: memungut apa yang kita buang sembarangan, menyusunnya dengan rapi, memastikan tanah tempat kita berpijak tetap layak ditempati. Ia tidak meminta pujian, tidak menuntut upah—ia hanya mengikuti apa yang hati kecilnya katakan: tempat ini harus bersih.

Fakta ini terekam jelas, dan menyadarkan siapa saja yang melihatnya: kita yang merasa paling tahu, ternyata yang paling tidak tahu berterima kasih pada alam.
“Kita yang mengaku akalnya lengkap, seenaknya mengotori tempat ini. Tapi dia yang kita anggap ‘tidak waras’, justru menjaganya seperti merawat diri sendiri,” ujar F dan H yang sedang duduk menikmati kopi, suara mereka kini penuh rasa malu yang mendalam.
Ini bukan sekadar kisah menyentuh—ini adalah aib. Masalah sampah adalah urusan paling dasar, paling krusial, dan seharusnya menjadi prioritas nomor satu. Tapi kenyataannya? Pihak Nagari Koto Tangah dan Kecamatan Tilatang Kamang justru mengabaikannya sama sekali. Acara digelar tanpa persiapan matang, tanpa rencana penanganan sampah, seolah kebersihan bukan urusan siapa pun.
Warga pun mengecam keras kelalaian ini. “Kalau untuk urusan sekecil sampah di acara ini saja tidak sanggup diurus, bagaimana mungkin kita bicara menjaga lingkungan nagari dan kecamatan secara luas? Ini sungguh memalukan!” tegas mereka.
Kita terlalu cepat memberi label: gila, aneh, berbeda. Padahal seringkali yang “berbeda” itulah yang hatinya paling bersih, yang kesadarannya paling tinggi. Kita sibuk berlagak tahu segalanya, tapi lupa hal paling dasar: menghargai tempat kita hidup.
“Kebersihan bukan soal siapa yang paling pandai berpidato, bukan soal siapa yang posisinya paling tinggi. Kebersihan adalah bukti rasa peduli—peduli pada tanah tempat kita berpijak, peduli pada sesama, dan peduli pada masa depan,” ujar seorang tukang ojek yang menyaksikan langsung kejadian itu.
Semoga tamparan keras ini tak sekadar lewat begitu saja. Jangan sampai sosok yang kita remehkan justru menjadi teladan yang tak mampu kita tiru. Mari berubah sekarang: buang prasangka, buang sampah pada tempatnya, dan tuntut tanggung jawab penuh dari pihak Nagari maupun Kecamatan. Jangan biarkan acara-acara selanjutnya kembali menginjak-injak martabat lingkungan kita sendiri.
“Jika urusan kecil tak sanggup diurus, jangan bermimpi membawa perubahan besar,” ujar pelanggan kopi lainnya dengan nada bergetar harap-harap cemas.
(MyLbs)




